ANIS ANNISA MARYAM
Selamat pagi, saya gumamkan itu,
Entah pada siapa,
(mungkin pada seberkas sinar yang menyelusup lewat jendela)
Dan saya menggeliat,
Reaksi dilematis antara tidur dan bangun
Pikiran sudah mengelana kemana mana
Tubuh masih ingin berbaring lama lama
Lalu,
Lalu,
Lalu,
.
saya masih ada di tepi sungai seine,
saat saya membasuh tubuh pucat telanjang saya
saya sedang menyusuri the great wall
saat bangunan kelabu berlumut meneriakkan realita
saya sedang di puncak everest,
memandang gemerlapnya taj mahal,
menyentuh batuan kasar piramida,
dan semua yang mereka bilang dunia nyata,
tidak lebih dari sebuah paradoks transparan
.
Sekarang, tubuh saya disini, duduk di atas kursi coklat
(mungkin sekarang pikiran saya sudah di luar angkasa)
Ada yang mau membawa saya kembali ke dunia nyata?
EKKY ZAINUDDIN AFFANDI
Gumam sang surya meneriakkan dia datang
Sosialisasi paradigma dengan sketsa yang terhambur
Kesetiaan daratan menunggu turunnya hujan
Perunggu terbakar suhu matahari sendu
Kini, seekor macan menggigitku lalu mengoyaknya
Coba terangi sisi gelap dengan senyumnya
Namun terasa dingin membeku dalam nadi
Cahaya yang terbersit dalam sembilu tertawa
Dan
Teriak
Kembali aku terjepit dan menjerit
Hallo
Apakah ada yang mendengarku?!
Atau mungkin mereka menutup telinganya?!
Hey, hati ini menjerit di hadapmu
Datar kau menyadarinya
ANIS ANNISA MARYAM & EKKY ZAINUDDIN AFFANDI
Hallo, tuan Ekky. Mau bawa saya ke dunia nyata?
Hey, dunia nyata di hadapanmu, tinggal keinginanmu melayang menuju..
Tapi keinginan ada di pikiran saya, sedangkan ia sudah terlalu tingggi mengawang
Berpikir dengan keyakinanmu, lalu nikmati hal itu.. Hingga saatnya membawamu.
Mungkin saya ikut ia terbang saja dulu, sampai nanti ia kembali ke realita. Mau ikut?
Sayangnya, khayalan ada dalam pikiran, dan dengan senang hati saya masih bisa mengendalikan itu.
Ahh. Dasar orang dewasa. Yasudah, baik baik disitu. Sampai nanti, tuan ekky.
Sepertinya percakapan dua arah masih jauh lebih baik daripada terbang tanpa tahu arah. Selamat menikmati, sayang.
terima kasih klw begitu..
meski saya tak begitu ngerti ma puisi..